Yayasan Intan Maharani Ajak Pemerintah Daerah Tingkatkan Kolaborasi untuk Penanggulangan HIV/AIDS di Palembang

by -531 Views

Palembang, — Yayasan Intan Maharani (YIM) menggelar kegiatan “Support for Attending Budget Cycle Process in District” dimana kegiatan ini diinisiasi oleh Technical Officer Aliyul Hidayat, di KopiES Biliton, Sabtu (9/11/2024) Palembang.

Acara ini berfokus pada pembahasan usulan prioritas dalam penanggulangan HIV/AIDS, yang dihadiri oleh perwakilan dari organisasi masyarakat sipil (OMS).

Sarwitri, selaku Manajer Program Konsil LSM Indonesia, menuturkan bahwa diskusi ini bertujuan untuk menyusun isu-isu prioritas yang diharapkan dapat masuk dalam perencanaan anggaran tahun 2026. “Kami berharap usulan ini bisa menjadi bagian dari Musrenbang, terutama terkait program penanggulangan HIV/AIDS yang akan diajukan kepada pemerintah, khususnya Bappeda dan OPD terkait,” ujarnya.

Menurut Sarwitri, hasil dari audiensi sebelumnya mendapat respons positif dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) serta Dinas Kesehatan Kota Palembang. Kedua dinas tersebut telah menunjukkan komitmen untuk bekerja sama dengan OMS dalam bentuk swakelola tipe 3 pada tahun 2025, meskipun besaran anggaran masih dalam tahap pembahasan.

“Dinas PPA telah berkomitmen mendukung OMS dalam dua kegiatan advokasi, sementara Dinas Kesehatan siap berkolaborasi menggunakan skema swakelola di tahun mendatang. Kami optimis kerjasama ini akan berjalan efektif,” tambahnya.

Dalam diskusi tersebut, muncul 10 isu prioritas yang relevan untuk diusulkan, termasuk upaya pencegahan HIV/AIDS dan dukungan bagi orang dengan HIV (ODHIV) yang menjadi korban kekerasan. Sarwitri mengungkapkan bahwa dukungan edukasi dan penyediaan rumah aman menjadi penting dalam penanggulangan HIV/AIDS, dengan sasaran utama anak-anak muda agar lebih teredukasi di era digital.

“Kami menargetkan edukasi untuk anak muda, karena mereka adalah generasi penerus yang menghadapi berbagai tantangan di dunia digital. Informasi tentang HIV/AIDS harus disampaikan dengan cara yang singkat dan efektif, sehingga dapat menekan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV,” jelasnya.

Sarwitri juga berharap agar ke depannya pemerintah daerah bisa mengambil alih program-program OMS, terutama saat dukungan dari donor asing seperti Global Fund (GF) mulai berkurang. “OMS perlu mempersiapkan diri agar ketika pemerintah siap membuka kerjasama lebih luas, OMS sudah matang untuk berkolaborasi lebih dalam,” imbuhnya.

Ketua YIM, M. Suharni, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata kolaborasi antara OMS yang berfokus pada pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dan tuberkulosis (TB) di Kota Palembang. “Isu HIV/AIDS harus didukung oleh semua pihak. OMS, pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi agar penanggulangan berjalan maksimal,” ujarnya.

Suharni menambahkan, OMS juga berperan dalam penjangkauan kelompok ODHIV, edukasi, dan mendampingi mereka dalam proses pengobatan. Jika ditemukan kasus reaktif, OMS akan memfasilitasi agar pasien bisa menjalani pengobatan secara teratur dan tidak merasa terdiskriminasi.

“Kami berharap hasil diskusi ini bisa diterima oleh OPD terkait, sehingga kerjasama antara OMS dan pemerintah dapat semakin solid. Tujuan akhirnya adalah menekan angka penularan baru, memastikan pasien taat pengobatan, dan menghilangkan stigma di masyarakat,” pungkasnya.

Kolaborasi yang semakin kuat antara OMS dan pemerintah diharapkan akan membawa dampak signifikan pada pengendalian HIV/AIDS di Kota Palembang.

BeritaSip.com