Ya, Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung saat ini dinilai oleh banyak pengamat sebagai salah satu turnamen yang paling sarat dengan tensi dan campur tangan politik dalam sejarah modern sepak bola.
Sebagai turnamen terbesar dengan format baru 48 negara yang tersebar di tiga negara tuan rumah (Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada), dinamika geopolitik global dan kebijakan domestik sangat memengaruhi jalannya kompetisi.
Berikut adalah beberapa isu politik utama yang paling menyita perhatian di Piala Dunia 2026:
1. Intervensi Donald Trump dalam Keputusan VAR (Kasus Folarin Balogun)
Ini menjadi salah satu kontroversi paling mengejutkan yang terjadi langsung di dalam lapangan (fase gugur). Penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, sebelumnya dijatuhi kartu merah langsung saat melawan Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar, yang otomatis membuatnya terkena sanksi larangan bertanding satu laga.
Namun, secara mengejutkan FIFA mengaktifkan Article 27 untuk menangguhkan hukuman tersebut, sehingga Balogun bisa bermain di babak 16 besar melawan Belgia. Laporan dari berbagai media internasional menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump secara pribadi menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino untuk melobi pembatalan sanksi tersebut. Hal ini memicu protes keras dan kemarahan besar dari Federasi Sepak Bola Belgia (URBSFA) yang menilai integritas olahraga telah dirusak oleh intervensi politik mentah-mentah.
2. Isu Visa, Penolakan Imigrasi, dan Deportasi
Kebijakan imigrasi ketat di bawah administrasi pemerintah AS saat ini menyebabkan kekacauan besar bagi elemen-elemen penting turnamen:
- Penolakan dan Penahanan: Wasit terbaik Afrika sempat diinterogasi selama 11 jam sebelum akhirnya dideportasi, sementara wasit asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk sehingga gagal memimpin laga. Striker Irak, Aymen Hussein, juga sempat ditahan selama 7 jam di Bandara O’Hare Chicago saat mendarat.
- Pembatasan Supporter: Kebijakan travel ban (pembatasan perjalanan) yang menyasar puluhan negara membuat ribuan suporter dari negara peserta seperti Senegal, Pantai Gading, dan Haiti tidak bisa mendapatkan visa untuk mendukung tim mereka secara langsung di stadion.
3. Krisis dan Ketegangan Militer dengan Iran
Partisipasi tim nasional Iran menjadi titik paling panas secara geopolitik menyusul pecahnya konflik bersenjata yang melibatkan AS di Timur Tengah sejak Februari 2026. Dampaknya langsung terasa pada operasional tim:
- AS menolak memberikan izin wilayahnya untuk dijadikan basecamp latihan timnas Iran, sehingga posisi kamp mereka terpaksa dipindahkan ke Tijuana, Meksiko.
- Alokasi tiket untuk suporter Iran sempat dicabut beberapa hari sebelum turnamen dimulai, dan sebagian staf kepelatihan mereka dilarang masuk ke wilayah AS akibat penolakan visa.
4. Larangan Atribut Bendera di Inggris
Di ranah domestik negara peserta, ketegangan politik juga muncul. Di Inggris, beberapa dewan wilayah mengeluarkan imbauan kontroversial yang melarang suporter mengibarkan atau menempelkan bendera Salib St. George (bendera nasional Inggris) di fasilitas publik tertentu selama Piala Dunia. Langkah ini diambil guna meredam potensi gesekan komunitas dan persepsi intimidasi bagi para pencari suaka di sana.
Melalui rentetan peristiwa ini, Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar steril dari panggung politik dunia. Hubungan yang dinilai terlampau “mesra” antara Presiden FIFA Gianni Infantino dengan para pemimpin dunia membuat FIFA dikritik tajam karena dianggap lebih mengutamakan komersialisasi dan konsesi politik ketimbang menjaga sportivitas murni di lapangan.






