KWT Kenanga Wujudkan SDGs 3 Melalui Rumah Herbal di Gajah Mati

by -252 Views
Foto : bu Yeni Ketua KWT kenanga saat melakukan proses pembuatan syrup herbal

MUSI BANYUASIN, BeritaSip.com – Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) merupakan salah satu Kabupaten terkenal sebagai daerah penghasil minyak bumi, dan menjadi lumbung energi utama di Sumatera Selatan. Karena itu tak heran jika Muba juga berkontribusi dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan atau lebih di kenal dengan sebutan Sustainable Development Goals (SDGs) point ke tiga yaitu tetang capaian kehidupan sehat dan sejahtera.

Dalam upaya Mewujudkan tujuan SDGs 3, di daerah ini terdapat banyak potensi yang bisa dikembangkan, di tengah gemuruh mesin pengebor dan aroma minyak mentah yang dimenguap, juga tumbuh energi lain, yaitu energi pemberdayaan, yang mengubah kehidupan ibu-ibu desa menjadi kisah inspiratif tentang kemandirian dan keberlanjutan perekonomian masyarakat di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Muba.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PT Medco Energi yang merupakan perusahaan minyak dan gas (Migas) Nasional ini membuktikan bahwa industri energi mampu menyalurkan manfaat ganda, bukan hanya bagi perekonomian nasional, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Saat itu tepatnya tahun 2011 silam, tim CSR Medco mengundang ibu-ibu PKK Desa Gajah Mati untuk mengikuti pelatihan sederhana tentang tanaman umbi umbian dan rempah masakan alias bumbu dapur, ternyata tanaman itu banyak khasiatnya untuk kesehatan.

Tak disangka dari pertemuan tersebut tumbuh Kelompok Wanita Tani (KWT) Kenanga, sebuah wadah kecil yang kemudian terus bertumbuh, mekar hingga menjadi simbol pertumbuhan ekonomi baru di Muba.

“Pertemuan Medco bersama ibu-ibu PKK Desa Gajah Mati untuk mengenalkan berbagai macam tanaman umbian, rempah yang memiliki khasiat untuk obat. Lalu terbentuk kelompok-kelompok tanaman herbal yang dibina oleh Medco,” ujar Yeni Lusmita, ketua KWT Kenanga Desa Gajah Mati babat Supat, pekan lalu.

Yeni menuturkan sebagai ibu rumah tangga biasa, ia sangat bersyukur diajak belajar mengenali jenis tumbuhan berkhasiat, menanam tanaman herbal, mengolahnya, dan diberikan pengetahuan tentang nilai ekonominya. “Dari situ kami mulai percaya diri bisa membantu ekonomi keluarga.” Kenangnya.

Medco terus mendampingi kelompok ini dengan memberikan bantuan bibit, peralatan produksi, hingga pelatihan lanjutan. Bahkan pada tahun 2013, ibu-ibu KWT Kenanga difasilitasi untuk studi banding ke luar Provinsi, belajar langsung tentang pengolahan herbal dan manajemen usaha kecil.

“Medco membantu bukan hanya dengan alat, tapi juga ilmu, kami belajar membuat jamu instan, minuman sehat, sampai kapsul herbal. Semua itu membuka wawasan baru bagi kami, dan merupakan energy baru bagi kami untuk hidup lebih baik. kini tumbuh unit usaha produktif bernama Rumah Herbal Kenanga,” tutur ibu tiga anak ini.

Rumah produksi yang dibangun pada 2022 dengan dukungan Medco ini, sekarang menjadi pusat pembuatan berbagai produk herbal untuk kesehatan keluarga, mulai dari jahe instan, bandrek, temulawak, macam macam syiruf hingga aneka macam racikan obat seperti kapsul dan teh kesehatan.

Pemberdayaan yang dilakukan Medco terbukti menimbulkan efek berganda (multiplier effect) di Desa Gajah Mati. Tak hanya meningkatkan pendapatan anggota KWT Kenanga, tapi juga mendorong ekonomi lokal. Banyak keluarga menerima manfaat dari program yang dilakukan oleh Medco yang pada akhirnya juga ikut berkontribusi dalam Mewujudkan SDGs 3.

KWT Kenanga kini rutin mengikuti pameran UMKM tingkat Kecamatan, Kabupaten, hingga Provinsi. Produk mereka menjadi kebanggaan daerah, apalagi sejak mendapatkan izin edar, sertifikat halal, dan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Kini, Rumah Herbal Kenanga bukan sekadar pusat produksi, tetapi juga pusat edukasi dan inspirasi. Para ibu rumah tangga duu yang kesibukannya hanya di dapur kini menjadi CEO pengusaha kecil yang percaya diri. Mereka sering berbagi ilmu antar sesama, memahami cara mengelola keuangan dan saling dukung untuk dapat maju dan sejahtera bersama.

“kini kami menjadi para ibu rumah taggga yang produtif, bukan hanya memilikik pendapatan sendiri namun kami juga dapat menjadi solusi bagi kesehatan semua orang.” Tutur istri M Ambar ini.

Kehadiran rumah herbal Kenanga ini juga jadi kebanggaan Kepala Desa Gajah Mati, Subandi Arif. Saat dimintai komentanrnya melalui Sekdes Gajah Mati, Haryanto, SH. Ia mengatakan bahwa kehadiran kelompok wanita tani kenanga yang menghasilkan produk kesehatan ini, membawa perubahan nyata bagi perekonoian masyarakat Desa.

Diketahui Desa Gajah Mati terdapat 1.012 Kepala Keluarga (KK), dengan masyarakat usia produktif sebanyak 2.500, mata pencarian di desa ini sangat variatif, namun yang paling dominan adalah sector pertanian. Mulai dari petani karet, sawit hingga buruh pekerja perusahaan migas.

Tanaman herbal untuk kesehatan yang dihasilan oleh para ibu-ibu Desa Gajah Mati, sangat membantu perekonomian, karna setiap ada kegiatan, produk hasil olahan KWT Kenanga selalu di tampilkan di pameran UMKM. Mulai dari tingkat kecamatan, Kabupaten hingga Provinsi.

“Kegiatan ibu-ibu KWT Kenanga tidak hanya menambah penghasilan keluarga, tapi juga menginspirasi warga lain untuk ikut menanam tanaman herbal dan hidup lebih sehat. Kami berharap aktivitas ini terus berlanjut, dan tingkat kesejahteraan masyarakat terus bertumbu,” harapnya.

Sebelumnya Hirmawan Eko Prabowo, Manager Field Relation & Community Enhancement Medco Energi South Sumatera Region, pernah mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah upayah bekerja bersama, wujud gotong royong saling membantu dan sama-sama terlibat dalam satu tujuan bersama.

Medco terus berupaya memberdayakan masyarakat yang berada di sekitar area operasional perusahaan melalui penguatan potensi lokal yang dimiliki warga secara aktif, terarah, dan berkesinambungan. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan, kemajuan, serta kemandirian masyarakat dalam berbagai sektor kehidupan.

Program Tanaman Obat Keluarga (TOGA) menjadi salah satu bentuk nyata dukungan perusahaan dalam meningkatkan kemandirian kelompok perempuan, khususnya pada bidang kesehatan dan pengembangan ekonomi keluarga.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal secara berkelanjutan. Dari kawasan penghasil energi bumi, kini tumbuh pula energi baru yang lahir dari kreativitas dan kerja keras para perempuan Desa Gajah Mati. Desa yang sebelumnya dikenal sebagai wilayah penghasil minyak, kini juga dikenal melalui aroma serai, jahe, dan temulawak yang menjadi simbol perubahan dan berkelanjutan.

“Pemberdayaan masyarakat membutuhkan proses dan tidak dapat dilakukan secara singkat. Kami berharap keberadaan sektor hulu migas mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Program Tanaman herbal ini menjadi wujud sinergi antara industri energi dan pemberdayaan sosial masyarakat,”pungkasnya. (EP)

BeritaSip.com